
Pengijazahan Kutub As-Sittah di UIN Antasari Banjarmasin Memperkuat Tradisi Keilmuan Islam
Banjarmasin, 21 Oktober 2026 — Kegiatan Pengijazahan Kutub As-Sittah yang diselenggarakan di Masjid Abdurrahman Ismail, UIN Antasari Banjarmasin, pada Rabu (21/10/2026) berlangsung dengan diikuti sekitar 210 peserta. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam bidang hadis, sekaligus menjaga kesinambungan transmisi ilmu dari para ulama kepada generasi penerus.
Pengijazahan tersebut menghadirkan Tuan Guru KH. Muhammad Wildan Salman sebagai pemberi ijazah. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUH) UIN Antasari Banjarmasin, Ketua dan Sekretaris Program Studi Ilmu Hadis, para dosen, mahasiswa, alumni, serta peserta umum dari berbagai kalangan.
Antusiasme peserta terlihat dari keikutsertaan sekitar 210 orang dalam kegiatan yang berfokus pada pengijazahan Kutub As-Sittah, yaitu enam kitab hadis utama dalam tradisi keilmuan Islam. Keenam kitab tersebut adalah Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Jami’ at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah.
Dalam tradisi keilmuan Islam, ijazah merupakan bentuk otorisasi atau izin periwayatan dan transmisi ilmu yang diberikan oleh seorang guru kepada muridnya berdasarkan tradisi keilmuan yang berlaku. Pengijazahan kitab-kitab hadis memiliki arti penting dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan serta menumbuhkan penghormatan terhadap para ulama dan warisan intelektual Islam.
Kehadiran pimpinan fakultas, pengelola Program Studi Ilmu Hadis, dosen, mahasiswa, alumni, dan masyarakat umum menunjukkan adanya perhatian serta dukungan terhadap pengembangan kajian hadis di lingkungan UIN Antasari Banjarmasin. Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan akademik dan keagamaan yang mempererat hubungan antara sivitas akademika dan masyarakat.
Bagi mahasiswa dan alumni Program Studi Ilmu Hadis, kegiatan pengijazahan ini diharapkan dapat memperkuat kecintaan terhadap hadis Nabi Muhammad saw., meningkatkan semangat mempelajari sumber-sumber hadis secara bertanggung jawab, serta mendorong pengamalan nilai-nilai profetik dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, pengijazahan Kutub As-Sittah menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi keilmuan yang berlandaskan sanad, adab kepada guru, ketekunan dalam belajar, dan tanggung jawab dalam menyampaikan ilmu kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tradisi pembelajaran dan transmisi keilmuan hadis terus berkembang, sekaligus memperkuat peran Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin dalam melestarikan khazanah hadis serta mengembangkan kajian hadis yang integratif, kontekstual, dan bermanfaat bagi umat.






